Sabtu, 28 Juli 2012

Sultan Mahmud Malaka | Jalan - Jalan Ke Peninggalan Sultan Terakhir Malaka di Kampar


Ada 2 versi yang menyatakan makan sultan Mahmud malaka. tapi lokasi nya yang tertera dalam kitab sulatus salatin itu berada di Kampar, ada yang menyatakan makam beliau ada di pekantua  pelalawan di kompleks pemakaman tua yang bernama makam jauh memang dahulu pelalawan berada di kabupaten kampar, dan yang satu lagi berada di daerah yang bener – bener bernama Kampar dari dahulu nya yang masyarkat setempat lebih senang menyebut kampau (Kampar.red) .
Di sini saya akan mengulas sejarah versi makam sultan Mahmud versi Kampar tempat nya berada di dusun merbau barat, koto perambahan – kec. Kampar timur.


masjid qubro

Di sini bukti yang paling mendukung itu adalah masjid peninggalan sultan masjid tersebut bernama masjid Qubro, dan cap mohor/stempel sultan yang di pegang oleh turun – temurun oleh pemangku adat setempat. Sedangkan bukti lain sudah hilang tidak tahu keberadaannya,






















Pada tahun 70 – an masjid ini sempat mengalami renovasi bentuk tapi tidak mengubah bentuk dari masjid, bentuk masjid ini sama dengan masjid jami di air tiris, masjid ini semula nya full dari kayu tapi sejak di renovasi sudah banyak beton yang menempel tapi sebagian masih ada yang tersisa dari bangunan lama.











Ketika sampai, ternyata datuk yang di cari sedang duduk santai di depan rumahnya melihat pekerja yang sedang memasang keramik di rumahnya yang di bilang cukup bagus itu, umur datuk somo sendiri sudah lebih dari 90 tahun tampatnya kondisi beliau tidak begitu sehat, yang kemudian menyuruh masuk ke rumah beliau.

Dari itu saya mulai menanyakan berbagai hal kepada datuk somo ini, di usianya yang memang sudah renta ini agak sulit untuk mengingat kembali sejarah turun temurun itu,


Beliau berkisah, ketika itu Melaka di serang oleh bangsa portugis karena sultan Mahmud ini kalah dalam peperangan maka beliau melarikan diri, pelarian pertama nya beliau merapat ke pulau bintan karena masih di kejar oleh pihak portugis dan kemudian pihak sultan Mahmud menelusuri sungai Kampar dan merapat di koto perambahan, tempat mereka mereka ini asal mula nama perambahan terang datuk somo. Kemudian beliau kembali bercerita bahwa kemudian sultan Mahmud ini menjadi sultan di daerah tersebut, ada 13 sultan yang pernah memimpin. Istana dari kesultanan Kampar ini sendiri sekarang sudah di hancurkan pada tahun 60- an dan salah satu yang paling merasa bersalah itu adalah datuk somo ini karena beliau lah yang menandatangi istana itu di rubah untuk sekolah dasar, datuk somo memberikan bayangan kalau istana itu berbentuk rumah lontiok yang ukuran nya besar dan tiang – tiangnya besar, di dalam istana tersebut banyak tersimpan lelo, tombak, pedang, peti – peti dll namun ketika istana itu di robohkan barang tersebut ikut hilang entah kemana, catatan – catatan manuskrip juga tidak ada di temukan lagi sehingga cop mohor itu lah yang paling di lindungi sekarang ini sebagai buktinya. Makam dari sultan Mahmud sendiri tidak berada di koto perambahan ini tapi berada di koto tinggi yang berada di kecamatan tambang. Makan sultan yang berada di koto perambahan ini yang sempat di lihat adalah makam sultan terakhir dari kampar.




Selama lama berbincang datuk somo menyuruh anaknya untuk menelpon datuk bosau beliau juga merupakan datuk pembesar di situ yang menyimpang cap mohor dari sultan Melaka. Setelah sekian lama berbincang dengan datuk somo saya lanjutkan melawat ke rumah datuk bosau, ketika di sampai di sana beliau menceritakan hal yang sama, ketika di Tanya cap mohor ternyata di simpan di rumah persukuan karena keterbatasan waktu saya tidak sempat untuk melihatnya,  



ada hal yang menarik yang di sampai kan datuk – datuk ini ketika kami mau pergi dimana tokoh – tokoh adat begitu resah tentang sejarah Kampar yang di buat oleh oknum – oknum tertentu yang di publikasikan di berbagai media, karena mereka mengganggap sejarah itu tidak benar, bahkan mereka mencerita kan bahwa yang rutin meneliti itu adalah professor suwardi yang merupakan akademisi di UR dan juga duduk di Lembaga Adat Melayu riau, prof, kelahiran taluk kuatan ini sangat getol mengenalkan sejarah Kampar. Dan tentu nya Lembaga adat di Kampar sendiri serta dari Malaysia. 
Mereka lah yang tahu selain para tetua adat di sini ucap tokoh adat ini





Ketika saya minta izin memfoto datuk somo beliau ingin di foto dengan topi kebesaran adatnya yang beliau katakana sudah berusia 200 tahun tersebut, datuk somo mengatakan saya lah orang tokoh paling di tua kan di sini ini lah bukti siapa saya, dan saya lah orang paling merasa bersalah ketika saya tanda tangani surat merubuhkan istana Kampar itu, dan saya lah yang paling tau sejarah Kampar ini beserta 5 orang datuk lainnya. tidak lah salah datuk somo ini berkata demikian beliau sebagai tokoh adat tentu lebih tau banyak sejarah para leluhurnya, keresahan beliau juga karena sejarah yang beredar selama ini di kampar tidak benar menurut kedua datuk ini. 

0 komentar:

Poskan Komentar